BELAJAR DEMOKRASI MELALUI PRAKTIK NYATA (PILKETOS, Kamis, 17 September 2026)

Setiap tahun, para siswa SMP, SMA, dan sederajat di berbagai sekolah di Indonesia hampir selalu menggelar Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos). Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin untuk memilih seorang ketua organisasi, tetapi juga menjadi ruang bagi para siswa untuk mempraktikkan nilai-nilai demokrasi secara nyata di lingkungan sekolah. 

Demikian juga pada hari Kamis, 17 September 2026, SMAN 1 Munjungan juga melaksanakan Pilketos yang diikuti oleh seluruh murid, Guru dan Tenaga Kependidikan di lingkungan sekolah.

Pilketos dapat dipandang sebagai bentuk pembelajaran demokrasi yang tidak berhenti pada teori. Prinsip bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, serta gagasan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, dapat diterapkan dalam lingkup kehidupan sekolah melalui proses pemilihan Ketua OSIS.

Calon Ketua OSIS berasal dari kalangan siswa. Mereka menyampaikan visi, misi, dan program kepada warga sekolah, kemudian para siswa menggunakan hak pilihnya untuk menentukan siapa yang dipercaya memimpin OSIS. Dengan demikian, Ketua OSIS bukanlah seseorang yang ditunjuk secara sepihak oleh kepala sekolah, guru, atau pihak lainnya, melainkan dipilih melalui proses yang melibatkan suara para siswa.

Lebih dari sekadar menjalankan prosedur pemungutan suara, Pilketos juga menjadi kesempatan untuk membangun demokrasi yang substantif. Para siswa belajar menggunakan hak pilih secara bebas dan bertanggung jawab berdasarkan pertimbangan serta hati nurani masing-masing.

Demokrasi di sekolah juga berarti menghormati kebebasan setiap siswa dalam menentukan pilihan. Tidak seharusnya terdapat paksaan, intimidasi, ancaman, maupun tekanan dari kandidat atau tim pendukungnya kepada pemilih. Setiap siswa memiliki hak yang sama untuk menentukan pilihannya tanpa harus takut terhadap perbedaan pilihan.

Pilketos juga menjadi sarana belajar untuk menolak praktik politik uang. Dukungan kepada seorang kandidat semestinya tidak diperoleh melalui pemberian uang, hadiah, atau iming-iming materi. Pilihan siswa seharusnya lahir dari penilaian terhadap karakter, visi, misi, gagasan, serta program kerja kandidat.

Dalam era digital, nilai demokrasi juga tercermin dari cara siswa menggunakan media sosial. Perbedaan pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk menyebarkan hoaks, fitnah, ujaran kebencian, kampanye hitam, atau informasi yang sengaja digunakan untuk menjatuhkan kandidat tertentu. Setiap informasi yang beredar perlu disikapi secara kritis dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, Pilketos bukan hanya tentang siapa yang memperoleh suara terbanyak dan menjadi Ketua OSIS. Lebih penting dari itu, Pilketos merupakan proses pendidikan karakter yang mengajarkan kebebasan memilih, tanggung jawab, kejujuran, sportivitas, penghormatan terhadap perbedaan, serta kesediaan menerima hasil pemilihan secara bijaksana.

This entry was posted in Uncategorised. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *